Yang ketiga dibatam dalam menyambut kenaikan harga BBM.
Listrik mati 2 sampai 3 kali sehari satu sendok makan. membuat bingung kapan mau kerja. ditambah lagi jadwal pemadaman listrik yang tak tentu arah, kadang pagi jam 9 kadang jam 12 siang.
Siang tadi pagi-pagi aku udah keluar rumah, seperti biasa, seperti burung-burung yang selalu keluar dari sarang untuk mencari rezki yang sudah ditakdirkan oleh-Nya, dengan harapan tentunya dapat membawa pulang sedikit atopun banyak ke rumah.
Kupikir pemadaman listrik akan terjadi jam-jam 9 sehingga sudah aku persiapkan untuk ketemu dengan orang-orang pagi ini. Eh gak dinyono (tidak dinyana – indonesia) ternyata pemadaman di daerahku sekitar jam 12 siang, mendekati waktu sholat jum’at. Ya sudah, jadi tak bisa ngurangin kerjaan yang numpuk.
sudahlah info malam ini daripada tidak nulis.
Sebentar ding …
Ada cerita nih tentang seorang prajurit yang gagah berani, dan tentunya dididik untuk membela bangsa dan negara tercinta ini.
Pada waktu itu hari panas sedemikian panasnya (kalo orang-orang bilang neraka bocor) sehingga batam yang merupakan daerah yang amat panas (cuaca, persaingan, erotisme, lontong/penjaja kemaluan, preman, konsultan, pegawai pemerintah dan diriku) menjadi semakin panas. Siang itu kebetulan aku ada di sebelah rumah yang dahulunya workshop advertising yang sengaja telah dengan sadar aku tutup karena bangkrut dan selalu dimaki konsumen, ada seorang prajurit lengkap dengan seragam lapangan yang menyeramkan ditambah peralatan komunikasi (telpon genggam) teknologi terbaru yang bisa untuk rekam gambar ditambah juga oleh perawakan yang gagah berani seperti mau dikhitan saja.
“Bang mau nanya “, kata prajurit dengan kebiasaan dia yang tak pernah sopan dalam berbicara.
“apa mas” dengan gaya jawaku yang medok tidak bisa ilang. “Tahu rumah pak xxx yang kerja di sini dan sering kesitu ?’ tanya dia. “Kurang tahu mas, soalnya saya jarang bergaul dengan orang-orang disini, maklum kami merupakan keluarga kontraktor (kontrak sana pindah sini) alias nomaden” jawabku. “o gitu ya, Pusing kali ini Udah siang-siang panas kaya gini disuruh nyari orang yang gak tahu alamatnya pula”, demikian tukasnya untuk mengakhiri pembicaraan.
Dalam hati aku mikir-mikir nih. Kalo seorang prajurit yang seharusnya tiada pernah mengeluh akan panas matahari tiba-tiba kali ini sebagian besar generasi prajurit baru setelah beberapa puluh tahun ditinggal “Panglima Besar Jendral Soedirman” mengeluh soal panas lha terus piye ? apa jadinya jika perang nanti, apa tidak mungkin bedil alias senapan, granat, bom dan lain-lain diserahkan kepada rakyat kalangan menengah kesamping seperti saya, yang tiap hari panas-panasan ini ?.
Mungkin bila perang terjadi, pakde prajurit tadi akan bingung mencari persembunyian yang ber-AC biar dingin dan biar bisa konsentrasi untuk berperang, sementara kita yang cuma sarungan akan diletakkan di garis depan.
he..he..he mbuh lah.